RESENSIBUKU di 04.14 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bahasa yang digunakan Habib biasa - biasa saja. Tidak seperti novel - novel lainnya yang menggunakan kata puitis dan sulir dipahami. Namun, penggunaan alat dan bahan yang disebutkan dalam buku ini masih jarang kita temui di wilayah tertentu.
FauzNoor Zaman kembali menyapa kita dengan Novel Pembuka Hidayah : Biografi Uwa Ajengan Jilid 3 dan launching dalam Reuni Himpunan Alumni Miftahul Huda (HAMIDA) ke-44. Sebelum menutur pandangan subjektif buku ini, saya terlebih dahulu perlu mengucapkan apresiasi kepada penulis yang konsisten menerbitkan novel biografi para ulama di Tasikmalaya.
Padaumumnya resensi dapat kita temukan di dalam surat kabar. Namun, tidak menggunakan nama resensi, melainkan ulasan. Pada bacaan yang lain, ada pula yang menyatakan resensi buku dengan sebutan tinjauan buku, timbangan buku, bedah buku maupun pembicaraan dari buku. Orang yang membuat suatu resensi disebut dengan resensator. B. Struktur Resensi 1.
KELEBIHANDAN KEKURANGAN BUKU a. Kelebihan : 1. Gaya penulisan yang runtut dan baik 2. Alur cerita dibawakan dengan ringan dan ceria sesuai karaktrernya yang masih muda. 3. Tereliye mampu membawa pembaca mengikuti alur dalam novel ini. 4. Desain buku yang menarik dan harga terjangkau untuk semua kalangan. 5.
JVtz. Resensi Buku sering disebut sebagai tinjauan buku, yang kemudian disebut juga dengan review buku book review. Maka untuk mudahnya kita sebut saja Review. Berikut ini adalah definisi dan cara membuat resensi buku. Resensi berasal dari bahasa asing latin resencere. Namun saat ini orang lebih suka menyebutnya review yang berarti tinjuan, melihat kembali, menimbang, atau menilai. Resensi buku pada umumnya berbentuk artikel yang khusus membahas isi sebuah buku. Berikut ini adalah teknik membuat resensi buku yang dapat memancing pembaca menghabiskan hingga kalimat terakhir. Resensi Buku Sexy But Not Naked Pada prinsipnya, resensi adalah menampilkan daya tarik sebagian isi, tetapi tidak semuanya. Review adalah memancing orang terjun ke kolam, bukan menerangkan seluruh detail kolam hingga orang tak penasaran lagi. Berikut ini adalah definisi dan cara membuat resensi buku. Membuat resensi buku harus memperhatikah hal-hal sebagai berikut. Unsur Resensi Buku a. Identitas Buku Identitas buku merupakan data umum buku yang direview. Meliputi judul buku, nama pengarang, genre, tahun terbit dan tahun cetaknya, ketebalan buku, nomor edisi buku, penerbit, ukuran buku, dan bila perlu harganya. b. Intisari Buku Maksud intisari di sini adalah sinopsis. Tidak perlu terikat kronologi cerita atau pembagian bab dalam buku karena sinopsis dapat ditulis dengan bebas. Sangatlah penting merangkai sebuah sinopsis yang memancing rasa ketertarikan pembaca, tanpa mengungkap fragmen kuncinya spoiler. c. Tentang Pengarang Bagian ini biasanya ditulis secara ringkas, hanya untuk mengungkap reputasi atau sisi menonjol dari penulis. Di dalamnya bisa memuat hal apa saja, misalnya latar belakang penulis, keahlian, dan karya-karyanya. Biografi pengarang merupakan unsur yang esensial karena track record akan terkait erat dengan daya tariknya di mata pembaca. d. Opini Reviewer Kelebihan dan Kekurangan Buku Unsur vital yang harus ada selanjutnya adalah pandangan terhadap sebuah buku serta isi didalamnya. Umumnya berisi penilaian kelebihan dan kekurangan buku. Bagian inilah yang berisi pendapat terhadap buku yang diulas. Bagian ini pula yang dilihat kembali secara seksama oleh pembaca untuk memastikan apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak, apakah sesuai dengan yang dicari atau tidak. Segi Tiga Resensi Buku Resensi buku biasanya meninjau tiga aspek pokok, yaitu potongan cerita atau inti buku, lalu informasi lain di luar teks buku, dan opini reviewer. Berdasarkan definisi dan cara membuat resensi buku, perhatikan hal-hal berikut. Aspek dalam buku meliputi identitas buku, kutipan, plot, karakter, gaya bahasa & penulisan, mudah/ tidaknya dicerna oleh pembaca, dll. Sedangkan Aspek luar buku adalah data lain di luar buku tentang penulis, teori umum, latar belakang situasi, perbandingan dgn karya lainnya atau karya orang lain yang sejenis, dll Yang ketiga adalah opini reviewer atau peresensi. Biasanya tentang kelebihan/manfaat buku, kekurangan buku, tentang penulis, menjawab pertanyaan yang common muncul, dll Poin Penting Dalam Resensi 1. Apakah subyektifitas boleh masuk dalam review? boleh tetapi dalam batas ilmiah tertentu, tidak membabi buta. Subyektifitas yang terlalu mendalam akan menyebabkan tidak kritis. 2. Resensi tidak ada kaitannya dengan fakta Anda menyukai buku itu atau tidak. Sebuah review dapat membuat orang lain tertarik pada opini anda, tanpa terkooptasi minat anda secara pribadi pada buku tersebut 3. Review akan sangat tergantung pada kemampuan anda menampilkan bagian mana yang dibuka, sehingga reviewer akan jujur pada satu hal itu saja 4. Review tidak dibuat untuk menjatuhkan sebuah karya sastra. Untuk membedakan mana buku biasa dan mana buku bagus, harus ada kode tertentu, seperti dalam istilah kuliner “Lezat” atau “Lezat sekali“ 5. Review tidak untuk menyeragamkan selera pembaca menjadi seperti reviewer, tetapi membantu menemukan buku yang cocok untuk mereka sendiri. Memulai Resensi Buku 1. Menentukan Keyword Hal pertama yang perlu dilakukan dalam membuat resensi buku adalah menentukan keyword atau kata kunci apa yang akan menjadi topik pembahasan artikel. Isi dari konten artikel bergantung sepenuhnya pada keyword, karena itulah yang menjadi topik yang akan dibahas. Penentuan keyword ini juga memiliki kaitan erat dengan SEO. 2. Riset Data Manfaatkan mesin pencari untuk menumbuhkan ide-ide terkait keyword yang anda bahas. 3. Menyusun variabel-variabel yang dibahas Penyusunan variabel ini terkait urutan ide-ide yang akan ditulis. Ide-ide yang dimaksud adalah paket informasi yang diwakili oleh keyword tadi. Keyword tadi mendrive variabel mana yang harus dibahas dan mana yang tidak. 5. Buat Judul yang Menarik Usahakan judul yang anda bikin menarik, tidak harus sensasional, memiliki rima, dan dapat memenangi SEO. Judul merupakan bagian pemikat sebagai daya tarik pada pandangan pertama bagi membaca. Bagian ini bertugas mencuri hati pembaca calon pembeli buku, maka jangan sia-siakan dengan kata-kata klise atau teoritis yang tidak eyecatching. 6. Buat Kerangka Book Review Semua tulisan membutuhkan alur, termasuk tulisan non-fiksi. Untuk mewujudkan alur yang lancar, runut, dan harmonis, maka dibutuhkan kerangka tulisan. Kerangka tulisan sangat membantu anda tetap on the track dan terhindar dari campur aduk pembahasan. Ini juga berfungsi sebagai framework bagi penulis sehingga tetap berada di jalurnya. Dengan begitu, pembaca dapat merasakan bahwa tulisan memiliki pembahasan yang utuh, mengalir, dan runut. Pembahasan yang keluar jalur sangat rawan terjadi, bahkan bagi penulis yang sudah memiliki jam terbang. Apa yang akan ditulis dalam book review terkait dengan segitiga sebagaimana yang disebut di atas. Kerangka apa yang akan dibahas, sepenuhnya terserah penulis resensi atau review. 7. Intisari/Sinopsis Pada bagian ini yang dibahas adalah sinopsis. Saat menulisnya, tidak perlu memperhatikan kronologi cerita. Kamu bisa menulis sinopsis secara bebas. Perlu banget dengan merangkai sebuah sinopsis yang memancing rasa ketertarikan pembaca tanpa perlu menulis secara lengkap isi dari buku sehingga dengan tulisanmu membuat pembaca terbius dan membaca buku aslinya. 8. Pembukaan Resensi itu bentuknya naskah kata. Maka lebih enak dengan langsung pada inti persoalan. Kalimat pertama cukup menentukan apakah pembaca akan berlanjut ke kalimat kedua, paragraf kedua, atau mundur. Secara umum, jangan memulai pembukaan dengan asumsi umum atau teori. Langsung saja pada kunci persoalan atau langsung menampilkan introduksi yang menggugah rasa ingin tahu. 9. Spoiler/ Plot Twist Spoiler adalah fragmen kunci yang menjadi bagian menentukan dalam sebuah cerita atau tulisan. Spoiler ini sebaiknya disinggung tetapi tidak dibahas. Inilah kode etik review jangan pernah menggambarkan secara konkret plot atau fragmen kunci dari sebuah buku/cerita. Beberapa reviewer berani menyinggungnya sedikit tetapi tidak memberikan bagian kunci untuk diketahui pembaca. 10 Panjang Tulisan Fakta Di era internet ini, pembaca memiliki pilihan bacaan tak terbatas yang dapat dinikmatinya sepanjang hari. Menyajikan resensi yang panjang tentu saja tidak akan bijaksana, atau jangan-jangan malah tidak dibaca. 1000 kata sudah cukup panjang, jangan lebih dari itu. 11. Review Fiksi Mereview Fiksi membutuhkan energi sedikit lebih besar karena harus mengikuti alur ceritanya secara komplit. Yang sedikit berbeda dengan resensi non fiksi adalah mengenai gaya bahasa yang digunakan, harus customize dengan buku yang diresensi. Bahasa buku yang bergenre fiksi, jika itu berupa novel maka bahasanya harus menggunakan sastra. Tetapi jika buku itu diperuntukkan anak-anak, tidak perlu dengan sastra, yang penting anak itu paham dengan bahasanya. Masalah Umum Yang Dihadapi Peresensi Sering kali pembuat resensi terlalu asyik menulis, sehingga lupa dari hal-hal yang disebutkan dalam definisi dan cara membuat resensi buku. Berikut ini hal-hal yang sering terjadi. 1. Terlalu Memuji Idealnya review terhadap suatu obyek datang dari orang yang sudah memiliki banyak pengalaman dengan obyek yang diresensi itu. Dengan demikian bobot resensi sepadan dengan pembuatnya. Bila anda memuji-muji dengan kasar, itu menunjukkan rendahnya kelas resensi itu, karena hanya silau dengan yang anda resensi sehingga tak muncul daya kritis sama sekali. 2. Tidak Jelas Titik Yang Dipuji/Kritik Sebagian reviewer, ketika memberi pujian/kritikan ditunjukkan halaman bukunya. Ini tidak harus, tetapi dalam memberikan opini harus jelas merujuk pada titik tertentu, bukan asumsi bebas. 3. Referensial Membandingkan dengan karya lain dari penulis yang sama, atau karya penulis lain dalam satu genre sangatlah referensial. Ini menunjukkan reviewer memiliki pengetahuan dan wawasan yang bagus mengenai yang direview. 4. Penjelasan isi yang terlalu panjang Cuplikan isi buku hanya untuk menampilkan sebagian kecil yang membuat penasaran saja. Dengan cuplikan itu pembaca jadi memiliki informasi yang cukup untuk mengetahui apakah buku itu cocok dengannya atau tidak. Anggap saja cuplikan itu sebagai teaser. 7. Argumen/Logika yang Lemah Setiap judgement harus persiasif, tidak asal menghakimi. Pembaca akan menganalisa apakah penghakiman kita itu relevan dan reasonable atau tidak, maka logika-logika yang dibangun haruslah mapan. 8. Kesan Narsis Penulis terkenal acapkali menggunakan kata ganti orang pertama aku/saya. Gaya ini juga sering dipakai oleh penulis blog. Dalam resensi, terutama untuk penulis pemula yang belum dikenal sebaiknya jangan dulu, karena akan menimbulkan kesan narsis yang berlebihan. Ingat, misi resensi ini adalah melayani pembaca. 9. Paragraf tidak rapi Paragraf itu adalah kelompok ide, bukan hanya kumpulan baris kalimat yang seenaknya dipisahkan dengan spasi. Bila anda tidak disiplin dengan barisan ide-ide, bisa jadi susunan paragraf anda terlihat rapi, tetapi sebenarnya berantakan. 10. Mengkritik Atau Tidak? Setiap karya tulis, pada dasarnya memiliki kelemahan. Maka pujian yang tidak diimbangi dengan kritikan logis tidak masuk akal. Ketika selera reviewer diperhitungkan dalam review, harusnya ada daya kritis yang muncul. Namun untuk review ednorsement, kritik tidaklah relevan. Maka bungkuslah rangkaian tulisan anda dengan kalimat-kalimat intelek yang setidaknya tidak terlalu penuh puja-puji. Namun secara teknis tidak boleh lepas dari hal-hal yang dijelaskan dalam definisi dan cara membuat resensi buku. Untuk melihat contoh resensi buku atau book review kunjungi situs Jakarta Book Review di
resensi buku biasa kita temui di